Presiden Prabowo Subianto Peringatkan Soal Laporan Palsu, Rocky Gerung Singgung Dugaan Menteri “Ngibul”
JAKARTA | KabarGEMPAR.com – Presiden Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada jajaran pembantunya di kabinet agar tidak memberikan laporan palsu atau data yang dimanipulasi hanya untuk menyenangkan pimpinan.
Peringatan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri acara tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa dirinya membutuhkan laporan yang jujur dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Saya susah dapat laporan, mudah-mudahan ini laporan yang benar. Jangan main-main lagi dengan saya laporan palsu, laporan menyenang-nyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan. Saya kasih peringatan keras ini,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat sorotan dari pengamat politik Rocky Gerung. Menurutnya, sikap tegas presiden kemungkinan dipicu oleh adanya informasi bahwa sejumlah menteri tidak menyampaikan data secara jujur kepada kepala negara.
Dalam analisisnya, Rocky menduga Prabowo telah menerima bocoran terkait laporan yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
“Saya duga Prabowo dapat bocoran bahwa selama ini beberapa menteri ngibul,” kata Rocky dalam kanal YouTube pribadinya.
Rocky juga menyinggung sejumlah data yang menurutnya perlu dipertanyakan, salah satunya terkait angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia menyebut angka PHK yang dirilis sekitar 100 ribu orang kemungkinan lebih besar dari yang dilaporkan.
Menurut Rocky, data tersebut bisa saja lebih tinggi karena tidak seluruh kasus PHK tercatat secara resmi.
Selain itu, ia juga menyoroti sejumlah indikator lain seperti data pertumbuhan ekonomi, program perumahan rakyat, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya perlu diuji kembali akurasinya.
Rocky menilai kemarahan Prabowo kemungkinan muncul karena presiden ingin mendapatkan gambaran kondisi negara yang sebenarnya, bukan laporan yang dibuat untuk menyenangkan atasan.
“Prabowo ingin kembali ke rasionalitas. Artinya data harus disampaikan apa adanya,” ujarnya.
Perbedaan Nada antara Presiden dan Menteri
Pernyataan Prabowo juga dinilai kontras dengan sikap beberapa menterinya. Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, khususnya konflik di Timur Tengah, Prabowo justru mengingatkan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi masa-masa sulit.
“Seluruh dunia sedang mengalami goncangan. Akibat perang di Timur Tengah kita harus siap menghadapi kesulitan,” kata Prabowo dalam kesempatan lain saat meresmikan ratusan jembatan secara daring.
Namun sejumlah menteri justru menyampaikan optimisme mengenai kondisi ekonomi dan pasokan kebutuhan pokok.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Ia menyebut pemerintah telah melakukan pemantauan lintas sektor untuk memastikan ketersediaan BBM dan LPG menjelang Lebaran.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan cadangan pangan nasional, khususnya beras, masih dalam kondisi aman dengan stok mencapai sekitar 4 juta ton.
Perbedaan pernyataan tersebut memicu perdebatan di ruang publik mengenai konsistensi data yang disampaikan pemerintah.
Di tengah dinamika tersebut, pengamat menilai peringatan presiden menjadi sinyal penting agar komunikasi internal pemerintah lebih transparan dan berbasis data yang valid, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Laporan: Tim Kabar Nasional
Editorial: Redaksi KabarGEMPAR.com
