Jejak Sejarah Kabupaten Majalengka: Dari Sindangkasih ke Tanah Maja Langka
MAJALENGKA | KabarGEMPAR.com – Di tanah Priangan Timur yang subur dan berhawa sejuk, terbentang sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Majalengka. Namun jauh sebelum dikenal dengan nama itu, wilayah ini adalah bagian penting dari peradaban kerajaan-kerajaan Nusantara, terutama Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Talaga.
Asal-Usul Nama Majalengka: Antara Buah Maja dan Nyi Rambut Kasih
Ada dua versi cerita yang berkembang mengenai asal-usul nama “Majalengka.” Versi pertama menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kata dalam bahasa Cirebon, yaitu “maja” (sejenis buah yang pahit) dan “langka” (hilang atau jarang). Dalam versi ini, Majalengka berarti “buah maja yang sudah langka atau hilang.”
Versi kedua mengisahkan tentang seorang tokoh perempuan karismatik, Nyi Rambut Kasih, penguasa Kerajaan Sindangkasih. Dikisahkan, Nyi Rambut Kasih membabat habis pohon-pohon maja yang tumbuh di wilayah kekuasaannya karena dianggap tak bermanfaat dan rasa buahnya pahit. Ketika utusan dari Cirebon datang untuk mencari buah maja di daerah itu, mereka tak menemukannya dan menyebut, “Maja-e langka!” Dari sinilah, nama Majalengka konon bermula.
Era Kerajaan: Dari Sindangkasih ke Talaga Manggung
Sebelum masa kolonial, wilayah Majalengka dikenal sebagai Sindangkasih, sebuah kerajaan kecil yang berdiri di antara pengaruh besar Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Galuh. Tokoh penting lain yang muncul dalam sejarah Majalengka adalah Prabu Geusan Ulun, putra dari Prabu Ratu Permanadikusumah, yang mendirikan Kerajaan Talaga Manggung sekitar tahun 1579.
Kerajaan Talaga kemudian menjadi salah satu kerajaan bawahan Kesultanan Cirebon, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga wilayah perbatasan antara Cirebon dan wilayah pedalaman Sunda. Selain dikenal sebagai pusat kekuasaan lokal, Talaga juga menjadi pusat seni, pertanian, dan perdagangan pada masanya.
Masa Kolonial dan Pembentukan Kabupaten

Pada awal abad ke-19, wilayah Priangan mulai diatur ulang oleh pemerintah kolonial Belanda.
Berdasarkan catatan administratif, pada tahun 1819, terbentuklah satu wilayah pemerintahan yang dinamakan Kabupaten Madja, dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Maja.
Namun, seiring dengan reorganisasi pemerintahan oleh Belanda, maka pada 11 Februari 1840, nama kabupaten ini secara resmi diubah menjadi Majalengka. Tanggal tersebut kini banyak disarankan oleh para sejarawan untuk dijadikan Hari Jadi Kabupaten Majalengka, menggantikan versi sebelumnya, yaitu 7 Juni 1490.
Pada masa kolonial, Majalengka juga menjadi tempat penting bagi berbagai aktivitas ekonomi. Belanda membuka perkebunan kopi dan pabrik gula, serta membangun infrastruktur berupa dermaga dan jalur transportasi untuk mengangkut hasil bumi. Salah satu bangunan bersejarah dari masa itu adalah Gedung Juang Majalengka, yang pernah menjadi tempat eksekusi hukuman gantung bagi para pejuang kemerdekaan dan pelanggar hukum kolonial.
Majalengka dalam Perkembangan Modern
Setelah kemerdekaan Indonesia, Kabupaten Majalengka terus berkembang sebagai salah satu daerah penyangga penting di Jawa Barat. Majalengka dikenal dengan hasil pertaniannya seperti padi, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta produk kerajinan dari wilayah seperti Jatiwangi yang terkenal dengan gentengnya.
Kabupaten Majalengka kini terbagi ke dalam beberapa wilayah pembangunan utama seperti:
Kadipaten
Majalengka Kota
Jatiwangi
Rajagaluh
Talaga
Setiap wilayah memiliki ciri khas budaya dan potensi ekonomi tersendiri. Desa-desa seperti Kulur, Majalengka Wetan, Kawunggirang, dan Cibodas menjadi bagian dari kecamatan inti Kabupaten Majalengka.
Perkembangan besar terjadi ketika pemerintah membangun Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yang menjadikan Majalengka sebagai gerbang udara utama wilayah timur Jawa Barat.
Warisan Budaya dan Identitas Lokal
Majalengka bukan hanya dikenal dengan sejarah kerajaannya, tetapi juga budaya lokal yang kuat seperti kesenian Calung, Tarling Cirebonan, hingga tradisi Ngalaksa. Warga Majalengka masih menjunjung nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal, menjadikannya sebagai salah satu kabupaten yang tetap mempertahankan akar budaya di tengah modernisasi.
Dari kisah Nyi Rambut Kasih hingga masa kejayaan Talaga Manggung, dari kolonialisme Belanda hingga pembangunan Bandara Kertajati, Majalengka telah menapaki perjalanan sejarah yang panjang. Kini, di tengah tantangan zaman, Majalengka terus bergerak maju sebagai kabupaten yang tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga warisan sejarah dan budaya yang tak ternilai.
Reporter: Iin Susanti | Editor: Redaktur KabarGEMPAR.com