Program Makan Bergizi Gratis Dipertanyakan, Warga Nilai Menu Tak Proporsional
KARAWANG | KabarGEMPAR.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Karawang kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah orang tua siswa di Desa Medankarya, Kecamatan Tirtajaya, mengeluhkan menu yang diterima anak-anak mereka dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
Selama Ramadan, menu MBG disebut disesuaikan menjadi makanan kering. Namun, sejumlah wali murid menilai komposisi dan porsinya terlalu sederhana. Paket yang diterima siswa antara lain terdiri dari satu kotak susu kemasan kecil, satu buah pir, beberapa butir kurma, serta dua keping biskuit. Tidak ada makanan pokok seperti nasi maupun lauk pauk.
Salah satu orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku anaknya masih mersa lapar sepulang sekolah.
“Anak saya bilang porsinya sedikit. Kalau memang anggarannya sampai Rp15.000 per porsi, seharusnya menunya bisa lebih layak dan mengenyangkan. Kami tidak menolak programnya, tapi kualitasnya harus sesuai,” ujarnya.
Keluhan serupa juga muncul dari Desa Baturaden, Kecamatan Batujaya. Sejumlah orang tua mempertanyakan apakah penggantian menu menjadi makanan kering telah melalui kajian gizi yang memadai. Mereka berharap standar kecukupan kalori dan komposisi gizi tetap menjadi prioritas, bukan sekadar kemudahan distribusi selama Ramadan.
Sorotan publik semakin menguat karena sebelumnya beredar informasi bahwa pagu anggaran MBG mencapai Rp15.000 per porsi. Namun, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik S Deyang, menjelaskan bahwa komponen bahan makanan dalam program tersebut sebenarnya berkisar Rp8.000–Rp10.000 per porsi.
“Untuk balita/PAUD/TK/RA serta SD/MI kelas 1–3 itu Rp8.000 per porsi. Untuk SD/MI kelas 4 ke atas hingga ibu menyusui Rp10.000 per porsi. Jadi bukan Rp15.000 itu untuk bahan makanan. Sisanya digunakan untuk operasional dan insentif mitra pelaksana,” ujar Nanik seperti dikutip dari SindoNews, Selasa (24 Februari 2026).
Menurut BGN, sekitar Rp3.000 per porsi dialokasikan untuk biaya operasional seperti listrik, gas, internet, distribusi, serta insentif relawan dan tenaga pendukung. Sementara sekitar Rp2.000 digunakan untuk sarana prasarana, termasuk dapur, gudang, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga peralatan masak.
Secara konseptual, MBG dirancang untuk memenuhi prinsip gizi seimbang dengan komposisi karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu. Distribusi dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat kecamatan guna menjaga standar kebersihan dan mutu makanan. Namun, munculnya keluhan di beberapa wilayah memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan dan kesesuaian antara perencanaan anggaran dan implementasi di lapangan.
Pengamat kebijakan publik menilai, dalam program berskala nasional yang menyasar anak-anak dan kelompok rentan, transparansi menjadi aspek krusial. Jika porsi yang diterima siswa dinilai tidak mencerminkan nilai anggaran yang disebutkan, maka evaluasi menyeluruh perlu segera dilakukan, termasuk audit terbuka atas komponen biaya bahan dan operasional.
Program peningkatan gizi anak merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, kesesuaian antara anggaran dan kualitas makanan yang diterima siswa menjadi elemen penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Di tengah Ramadan, ketika pola makan berubah, tantangan menjaga kecukupan gizi justru semakin besar-dan di situlah komitmen program ini diuji.
Laporan: Tim Kabar Karawang
Editor: Redaktur KabarGEMPAR.com
