Beasiswa Pertanian Karawang Disorot, Publik Ingatkan Jangan Salah Sasaran

Ilustrasi:Petani Karawang menyoroti rencana beasiswa pendidikan tinggi untuk anak petani, mempertanyakan mekanisme dan keadilan program. Fokus publik: regenerasi petani muda dan minat generasi Z di sektor pertanian.

KARAWANG | KabarGEMPAR.com – Rencana Pemerintah Kabupaten Karawang memberikan beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak petani menuai sorotan publik. Program yang disebut-sebut sebagai langkah strategis untuk regenerasi petani itu dinilai masih menyisakan sejumlah persoalan mendasar, mulai dari kejelasan regulasi hingga potensi salah sasaran penerima.

Sejumlah kalangan menilai, urusan sektor pertanian seharusnya fokus pada penguatan minat dan kapasitas generasi muda untuk terjun langsung ke dunia pertanian, bukan sekadar mengemasnya dalam program beasiswa yang berisiko dinikmati kelompok tertentu.

Kepala Bidang Sarana pada Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang, Mahmud, sebelumnya menyampaikan bahwa pada tahun ini pihaknya akan melakukan pemetaan petani muda, termasuk generasi milenial dan generasi Z, sebagai dasar pembinaan pertanian berkelanjutan.

“Program ini sejalan dengan visi regenerasi petani dan penguatan sumber daya manusia pertanian,” ujar Mahmud kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).

Namun pernyataan tersebut justru memicu kritik. Publik mempertanyakan arah kebijakan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan menurunnya minat generasi muda bekerja di sektor pertanian.

“Kalau bicara beasiswa, itu harusnya untuk siapa saja yang berprestasi, termasuk anak petani, tanpa pandang bulu. Fokus utamanya sekarang adalah bagaimana menarik minat generasi muda agar mau bekerja di sektor pertanian,” ujar salah satu pemerhati kebijakan publik di Karawang.

Menurutnya, bila serius ingin melakukan regenerasi petani, beasiswa seharusnya diberikan secara luas kepada pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan pertanian, mulai dari SMK pertanian hingga perguruan tinggi dengan jurusan pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Tanpa embel-embel anak tokoh atau kedekatan dengan kekuasaan. Semua yang sekolah di bidang pertanian harus mendapat dukungan. Itu baru kebijakan yang adil dan tepat sasaran,” tegasnya.

Selain itu, publik juga mendorong evaluasi kurikulum dan jurusan di SMK pertanian. Selama ini, sejumlah SMK pertanian dinilai terlalu menitikberatkan pada pengolahan hasil, bukan pada produksi pertanian, peternakan, dan perikanan sebagai sektor inti.
“Kalau tujuannya mencetak petani muda, jurusannya harus menjurus ke produksi. Jangan justru menjauh dari substansi pertanian itu sendiri,” tambahnya.

Hingga kini, Kabupaten Karawang belum memaparkan secara rinci regulasi, mekanisme seleksi, maupun indikator penerima beasiswa tersebut. Publik berharap program ini tidak berhenti sebagai jargon, melainkan benar-benar menjadi solusi krisis regenerasi petani yang kian nyata di daerah lumbung padi nasional itu.

Laporan: Tim Kabar Karawang
Editor: Redaktur KabarGEMPAR.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *