Alarm Sosial dari Tirtajaya: Pelajar Tewas, Tiga Sekolah Terlibat Tawuran
KARAWANG | KabarGEMPAR.com – Tragedi memilukan terjadi menjelang waktu Magrib, Jumat (4/7/2025), di Desa Srijaya, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang. Seorang pelajar bernama Ajis, siswa SMPN 2 Tirtajaya, tewas secara tragis dalam aksi tawuran antarpelajar yang melibatkan sejumlah sekolah.
Warga yang mendengar keributan dan teriakan panik segera menuju lokasi. Di sana, mereka menemukan Ajis terkapar bersimbah darah dengan luka bacok parah di bagian kepala.
Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
“Lukanya cukup dalam, terutama di kepala. Dokter bilang tidak bisa diselamatkan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Jenazah Ajis telah dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Srikamulyan, diiringi isak tangis keluarga, sahabat, dan guru-guru yang merasa kehilangan. Kepergian Ajis meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas.
Tawuran Libatkan Tiga Sekolah, SMPN 2 Jadi Target Penyerangan
Dari informasi yang dihimpun, tawuran berdarah ini melibatkan pelajar dari sedikitnya tiga sekolah: SMPN 1 Tirtajaya dan sejumlah pelajar dari wilayah Batujaya dan Kutawaluya. Diduga, mereka melakukan penyerangan secara terencana terhadap siswa SMPN 2 Tirtajaya.
Kuat dugaan, aksi tawuran ini direncanakan melalui komunikasi di media sosial. Polisi kini tengah menelusuri jejak digital yang mengarah pada pemicu utama dan aktor-aktor kunci dalam bentrokan tersebut.

Polisi: Jejak Digital Ditelusuri, Pelaku Diidentifikasi
Kepolisian Sektor Tirtajaya membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, kasus telah diambil alih oleh Polres Karawang guna penyelidikan lebih mendalam.
“Untuk kasus tawuran sudah ditangani oleh Polres,” ujar salah satu anggota Polsek Tirtajaya.
Fokus penyelidikan kini mengarah pada identifikasi pelaku, kemungkinan unsur perencanaan, serta keterlibatan media sosial sebagai sarana provokasi dan ajakan tawuran.
Kepala Desa: Ini Tanggung Jawab Bersama
Kepala Desa Srikamulyan, Halim, menegaskan bahwa tragedi ini bukan semata-mata tanggung jawab pihak sekolah.
“Anak-anak saat di rumah dan di luar jam sekolah adalah tanggung jawab orang tua. Tidak bisa hanya menyalahkan sekolah,” katanya tegas.
Halim juga menyoroti peran negatif media sosial dan penggunaan handphone di kalangan pelajar.
“Harus ada kontrol dan batasan. Banyak kasus seperti ini bermula dari saling tantang lewat media sosial,” tambahnya.
Ia berharap adanya kolaborasi aktif antara orang tua, guru, perangkat desa, dan aparat penegak hukum untuk menciptakan lingkungan sosial yang aman, sehat, dan mendidik bagi generasi muda.
Ajis: Lebih dari Sekadar Korban, Ini Alarm Sosial
Kematian Ajis bukan sekadar angka dalam statistik kriminalitas. Ia adalah simbol nyata dari rapuhnya pengawasan sosial, lemahnya pembinaan karakter, dan kurangnya sinergi antar institusi pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Ajis adalah anak yang seharusnya tumbuh di ruang kelas, bercita-cita dan belajar. Namun, nasibnya berakhir tragis di jalan, karena sistem yang gagal melindunginya.
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Tanpa langkah konkret berupa pembinaan, kontrol teknologi, dan penegakan hukum yang tegas, peristiwa serupa hanya menunggu waktu untuk terulang.
Reporter: Tim Kabar Karawang | Editor: Redaksi KabarGEMPAR.com