Dampingi Mentan, Kadistan Klaim Stok Beras Aman – Data Penyusutan Lahan Sawah Karawang Jadi Sorotan
KARAWANG | KabarGEMPAR.com – Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang, Drs. Rohman, M.Si, memastikan bahwa cadangan beras nasional dalam kondisi aman. Pernyataan tersebut disampaikan usai mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam kunjungan kerja dan inspeksi gudang beras di Karawang, Kamis (23/4/2026).
Dalam keterangannya, Rohman menyebut pemerintah bahkan telah merencanakan ekspor beras sebesar 200 ribu ton, dengan Karawang sebagai titik awal pengiriman karena dinilai masih berstatus swasembada pangan.
“Cadangan beras nasional saat ini mencapai sekitar 5 juta ton. Dengan kondisi tersebut, ekspor tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri. Bahkan stok diproyeksikan aman hingga 11 bulan ke depan,” ujarnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, sejumlah data menunjukkan adanya tantangan serius yang perlu dicermati, terutama terkait penyusutan lahan pertanian produktif di Karawang.
Lahan Sawah Menyusut, Fakta Tak Terbantahkan
Berdasarkan data resmi pemerintah daerah, luas baku sawah (LBS) Karawang saat ini tercatat sekitar 101.143 hektare, dengan sekitar 85 ribu hektare masuk kategori Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Namun jika ditarik ke belakang, tren penurunan lahan terlihat jelas. Data menyebutkan:
- Tahun 2000: sekitar 116–120 ribu hektare
- Tahun 2013: turun menjadi 103 ribu hektare
- Tahun 2023: kembali menyusut menjadi sekitar 97 ribu hektare.
Artinya, dalam dua dekade terakhir, Karawang telah kehilangan puluhan ribu hektare lahan pertanian.
Bahkan, kebijakan tata ruang daerah juga membuka peluang alih fungsi. Sekitar 10 ribu hektare sawah masuk zona pengembangan non-pertanian yang memungkinkan dialihfungsikan untuk industri dan permukiman.
Alih Fungsi Lahan: Perumahan hingga Industri
Fenomena alih fungsi lahan tidak hanya terjadi dalam skala besar, tetapi juga di tingkat kecamatan. Studi akademik menunjukkan bahwa di wilayah seperti Kotabaru, lahan sawah terus berkurang akibat pembangunan perumahan dan infrastruktur, dengan laju penurunan sekitar -4,32% per tahun.
Selain perumahan, muncul pula indikasi pemanfaatan lahan pertanian untuk usaha lain, termasuk peternakan dan kawasan industri, yang secara kumulatif mempersempit ruang produksi pangan.
Analisis: Klaim Aman vs Risiko Jangka Panjang
Pernyataan Kadistan soal stok beras yang aman memang berbasis pada kondisi cadangan jangka pendek. Namun, jika dikaitkan dengan tren penyusutan lahan, muncul sejumlah catatan kritis:
1. Ketahanan saat ini ≠ Ketahanan masa depan
Stok melimpah hari ini tidak otomatis menjamin keberlanjutan produksi jika lahan terus menyusut.
2. Ketergantungan pada produktivitas tinggi
Dengan lahan yang berkurang, pemerintah sangat bergantung pada peningkatan produktivitas. Ini rentan terhadap faktor cuaca, hama, dan distribusi.
3. Kontradiksi kebijakan
Di satu sisi mendorong swasembada dan ekspor, di sisi lain membuka ruang alih fungsi lahan dalam skala besar.
4. Potensi tekanan harga di masa depan
Jika produksi terganggu sementara permintaan stabil atau meningkat, risiko kenaikan harga beras tetap terbuka.
Perlu Kehati-hatian dalam Narasi Publik
Dalam konteks ini, sejumlah pengamat menilai pernyataan pejabat publik terkait kondisi pangan perlu disampaikan secara proporsional dan berbasis data jangka panjang, bukan hanya snapshot kondisi saat ini.
Karawang memang masih dikenal sebagai lumbung padi nasional. Namun, tanpa pengendalian alih fungsi lahan yang ketat, status tersebut berpotensi tergerus secara perlahan.
Optimisme pemerintah terkait cadangan beras patut diapresiasi, tetapi harus diimbangi dengan langkah konkret menjaga keberlanjutan lahan pertanian.
Jika tidak, klaim “aman” hari ini bisa berubah menjadi persoalan serius di masa depan.
Laporan: Tim Kabar Karawang
Editor: Redaksi KabarGEMPAR.com
