Kemendikdasmen Perluas PJJ ke 34 Provinsi, Sasar Ribuan Anak Putus Sekolah

Ilustrasi: Pembelajaran jarak jauh, mencerminkan upaya pemerataan akses pendidikan di era digital.

JAKARTA | KabarGEMPAR.com – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memperluas program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) ke seluruh 34 provinsi di Indonesia pada 2026. Program ini ditargetkan menjangkau sedikitnya 3.500 anak yang selama ini tidak mengenyam pendidikan formal.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa perluasan PJJ merupakan langkah strategis untuk menjawab persoalan ketimpangan akses pendidikan, khususnya bagi kelompok yang sulit dijangkau sistem konvensional.

“PJJ ini menjadi solusi nyata untuk menjangkau mereka yang selama ini tidak terjangkau layanan pendidikan,” ujarnya.

Jangkau Anak Hingga Luar Negeri

Program PJJ tidak hanya difokuskan pada anak-anak di dalam negeri, tetapi juga menyasar anak pekerja migran Indonesia di luar negeri. Sebelumnya, Kemendikdasmen telah melakukan uji coba PJJ bagi anak-anak di Malaysia pada 2025.

Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan setiap warga negara tetap mendapatkan hak pendidikan, tanpa terbatas oleh wilayah geografis.

Masih Ada Jutaan Anak Tak Sekolah

Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), saat ini terdapat sekitar 4 juta anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, program PJJ ditargetkan mampu menjangkau sekitar 1,13 juta anak secara bertahap.

Prioritas utama program ini meliputi:

  • Wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)
  • Daerah rawan bencana
  • Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN)
  • Anak usia 16–18 tahun yang terhambat akses pendidikan

Integrasi dengan Pembelajaran Mendalam

Kemendikdasmen juga menekankan bahwa pelaksanaan PJJ tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi harus terintegrasi dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning).

Menurut Mu’ti, pendekatan ini mencakup pengembangan aspek kognitif, mental, hingga pembentukan karakter peserta didik.

“PJJ bukan sekadar menekan angka anak tidak sekolah, tetapi juga membentuk karakter dan kompetensi yang kuat,” katanya.

Peran Sekolah Induk dan Mitra

Dalam implementasinya, program ini melibatkan 21 sekolah induk sebagai penanggung jawab utama, serta 62 sekolah mitra yang berkolaborasi dalam penyelenggaraan PJJ.

Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memastikan program berjalan efektif di berbagai daerah.

Tantangan Infrastruktur dan Kualitas

Meski dinilai sebagai solusi, perluasan PJJ juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kesiapan infrastruktur digital, kualitas jaringan internet, serta kesiapan tenaga pengajar.

Tanpa dukungan tersebut, program ini berpotensi hanya menjadi solusi parsial yang belum menyentuh akar persoalan pendidikan di daerah tertinggal.

Langkah Awal Pemerataan Pendidikan

Perluasan PJJ menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong pemerataan akses pendidikan nasional. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, pengawasan, serta dukungan lintas sektor.

Jika dijalankan secara optimal, PJJ berpotensi menjadi instrumen penting dalam menekan angka putus sekolah dan membuka akses pendidikan yang lebih inklusif di Indonesia.

Laporan: Tim Kabar Nasional
Editor: Redaksi KabarGEMPAR.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *